Rabu, 08 Mei 2019

MENANGISLAH SEKARANG NAK


MENANGISLAH SEKARANG NAK

Seharian ini, memasuki hari ketiga Ramadan. Pagi hari selepas sahur semua aman terkendali, bahkan anak-anak tampak menikmati paginya dengan bersepeda mengantar umi belanja dan keliling di sekitar rumah.  Seperti biasa  Si sulung yang terbiasa komitmen dengan waktu selalu menanyakan berapa lama boleh bermain sepeda dan meminta diingatkan ketika waktu bermain sudah habis. Karena pagi ini harus bersiap lebih awal ke sekolah. Alhamdulillah sejauh ini mas dan kakak sudah mulai terbiasa dengan komitmen waktu, meski belum memahami secara konkret bentuk waktu. Hanya sebatas memahami arag gerak jarum jam dan angka yang ditunjukkan.

Tanpa drama. Semua aman dan dilakukan sesuai kesepakatan. Waktu habis dan main sepeda diakhiri dengan bersegera ke kamar mandi. Kau tau bunda, ini masih belum seberapa jika dibandingan dengan drama di sisi lain, ya layaknya drama korea yang kadang mengundang tawa dan menghadirkan air mata, bahkan tak jarang membuat hati berdebar tak menentu layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Berdebar karena harap dan takut akan pola yang di ajarkan pada anak-anak. Pernah dongkol sesekali, ketika banyak sekali pengingat yang diberikan pada anak-anak tetapi tetap saja tak bersambut dengan perilaku yang diharapkan. Ahhh mungkin kita orang tua sering lupa bahwa tugas kita hanya ikhtiar berproses mengajarkan pada anak-anak. Urusan hasil baik tidaknya perilaku anak kita adalah kehendak Allah. Jadi jangan lupa iringi semua dengan doa memohon penjagaan Allah atas anak-anak kita. Jangan merasa jumawa atas proses dan pola didik. Jujur saja ini pengingat bagi saya pribadi.

Drama dengan konflik serunya bermula ketika anak-anak pulang sekolah. Datang dengan wajah cemberut dan emosi labil. Merengek tak karuan. Saatnya umi pasang tameng perlindungan agar semua aman. Heeee agak berlebihan ya tapi drama seru ini memang menyita energi hingga keamanan anak dan orang tua tetap harus dijaga. Kali ini tameng awal yang diserang adalah umi, karena mereka tau kalau fitrah ibu itu penyayang dan suka gak tega. Dan jangan lupa siapkan tameng kedua, abi yang siap menstabilkan kondisi. Siapa yang menang? Strategi siapa yang berhasil? Simak saja cerita selanjutnya.
“Umi aku lapar, haus mik”, begitu rengekan mas dan kakak sepulang sekolah
“Mas dan kakak mau minta apa? Berbuka sekarang?” ini tawaran tarik ulur ya.
Diam sejenak dan berpikir. “Enggak tau, tapi aku haus dan lapar”
“Oke umi tau anak-anak umi hebat, yuk kita tahan sampai waktu berbuka tiba ya. Minta tolong sama Allah biar dikuatkan, dihilangkan lapar dan hausnya”.
“Sudah mik tapi perut ku tetap lapar, leherku kering mik”
“Oke kita cari cara yang Allah suka ya nak, karena rewel tidak akan menguatkan puasa hingga waktu berbuka. Bagaimana jika tidur siang?”
“Aku gak mau tidur mik, nanti jadi gak bisa main”
“Oke kalau tidak mau tidur siang, harus kuat menahan tanpa rewel ya nak. Kalau tetap rewel, tidur siang jadi solusinya, karena sejak sahur belum tidur ya.”
Itulah sekelumit dialog di antara kami, yang sebenarnya masih banyak dialog lain terlebih pada penguatan nilai-nilai keimanan dan membangkitkan fitrah keimanan mereka. Tidak sekedar pada aturan dan konsekuensinya.

Sejenak setelah kesepakatan dibuat, rewel, lapar dan haus tetap tidak bisa dikendalikan. Akhirnya mereka sepakat untuk beranjak tidur siang dengan terpaksa. Alhamdulillah suasana kembali aman terkendali dan emak bisa umek di dapur menyiapkan berbuka puasa. Eh mungkin ada yang bilang kok tega banget sih anak kecil sudah dipaksa puasa kan belum wajib bagi mereka. Bagi kami ini bukan perkara paksaan puasa sampai maghrib. Kami orang tua sedang menjalankan kesepakatan dan membantu anak-anak menunaikan pilihan dan konsekuensinya. Berbuka sesuai dengan jam yang sudah disepakati. Kakak berbuka di waktu dhuhur dan lanjut puasa lagi hingga maghrib, sedangkan mas sedang belajar berpuasa maghrib. Bukan perkara tega atau tidak tega, bagi kami ini adalah proses pembelajaraan dan pembiasaan. Proses untuk belajar dengan pilihan, memutuskan dan bertanggung jawab atas keputusan.

Menangislah sekarang nak, jika itu akan menguatkan mu menghadapi ujian di masa depan. Abi dan umi akan membantu menguatkan mu siap menghadapi masa depan yang mungkin saat itu Abi dan Umi sudah tidak lagi membersamaimu. Karena tidak jarang ketika anak merengek menangis melawan kesepakatan yang ada, sesungguhnya dia sedang belajar cara melobi dan mencari kelemahan orang tuanya untuk memenuhi setiap keinginannya. Ada yang mengatakan jika kita orang tua tak sanggup dengan tangisan anak untuk menaati aturan, maka bersiaplah kelak kita orang tua yang akan dibuat menangis oleh anak-anak kita karena sudah terbiasa tidak menaati aturan.

Happy Ending nih drama hari ini, dan bersiap dengan drama selanjutnya. Poin penting yang tetap harus dijalankan adalah :
1.       Membuat aturan dengan kesepakatan bersama,
2.       Mendampingi ananda menjalankan konsekuensi atas setiap pilihannya,
3.       Menawarkan solusi yang bisa dilakukan anak-anak
4.       Kerjasama dengan pasangan atau patner dirumah untuk menjalankan aturan yang ada.

Good Job  anak-anak sholeh. Semoga Allah memberkahi proses belajar kita hari ini.
Ini cerita kami hari ini dengan nilai-nilai (value) keluarga yang kami sepakati. Tidak menutup kemungkinan ayah dan bunda memiliki pandangan dan cara didik yang berbeda. Selamat berbahagia membersamai buah hati.

Solichati, 8 Mei 2019 (3 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-3

MEMBERI DAN MENERIMA


MEMBERI DAN MENERIMA

Alhamdulillah memasuki hari kedua puasa Ramadan, anak-anak sudah mulai menikmati menahan rasa lapar dengan mengalihkan ke aktivitas yang bermanfaat dan mengusir kejenuhan. Melanjutkan menghias rumah dan membantu mengemas bahan pokok yang akan diberikan pada karyawan abi. Sembari membantu sesekali mereka bertanya mengapa harus membagikan sembako dan yang lainnya. Yap saat yang tepat mendiskusikan dengan anak-anak perintah Allah dan contoh Nabi tentang sedekah. Sebisa yang umi lakukan untuk memahamkan pada mereka bahwa dengan memperbanyak sedekah kita tidak akan miskin. Justru sebaliknya kita akan semakin kaya. Bahwa tidak setiap balasan kebaikan itu akan kita terima di dunia tapi akhirat yang paling utama. Dan meyakinkan mereka bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita, manfaatnya untuk kita.

Seperti biasa saya selalu belum tentu yakin bahwa diskusi tentang hal-hal yang tidak nyata sangat tidak mudah saat mendidik anak-anak. Memohon pada Allah semoga Allah memberikan peristiwa yang akan memudahkan mereka untuk memahami. Dan yap tidak lama setelahnya, rangkaian peristiwa pun Allah hadirkan sesuai kehendak Nya. Bel rumah berbunyi 3 kali saat umi sedang sholat ashar. Tamu tak di undang tapi membawa hantaran. Hahahaha siapa yang tak senang. Spontan anak-anak pun senang seperti sudah membayangkan akan berbuka dengan menu lezat pemberian orang. Tak hanya satu tamu, tamu berikutnya pun datang dengan tujuan serupa. Ya Rabb kenikmatan yang tampak di mata anak-anak tanpa bersusah payah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Beginilah cara Allah tunjukkan kebaikan itu akan kembali pada kita sendiri, bahkan baru sebatas niat. Selagi paket sembako yang sudah dikemas rapi belum terkirim pada karyawan, Allah sudah mengirimkan paket makanan dari tangan-tangan yang dituntun Allah. Allah Maha Baik, Allah Maha Adil.

Meski jika ditelisik sempat terbersit keluhan pada hati umi. Hmmm kok hantaran datang dikala umi sudah selesai memasak menu berbuka. Seketika harus dihapus dengan banyak istighfar karena tak seharusnya nikmat yang Allah kirimkan masih harus berbalas dengan keluhan. Alhamdulillah berkahnya anak-anak senang dan tak perlu repot menyiapkan menu santap sahur. Bonus lebihnya lagi bisa menambah amalan di sisi yang lain.

Menjadi pengingat bahwa sering ketika sudah repot memasak, ternyata seisi rumah pun enggan menyentuhnya. Bahkan yang awalnya diniatkan menyiapkan hidangan ketika suaami pulanh harus berujung pada menu yang utuh tak tersentuh karena suami pulang sudah dalam kondisi kenyang. Nafsu nya bilang “Haaah tau gitu tadi gak usah masak!” Astaghfirullah. Bukankah semua yang kita lakukan harus kita sandarkan pada Allah, tanpa meminta balasan dari makhluk. Maka dari sini tak aka nada rasa kecewa yang berkepanjangan. Bahkan jika dirunut suami pulang dalam kondisi kenyang pun bisa jadi karena tak ingin merepotkan istri di rumah untuk menyiapkan menu dan yang lainnya. Berbaik sangkalah. Allah tetap tidak akan menyia-nyiakan proses.

Solichati, 7 Mei 2019 (2 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-2


Senin, 06 Mei 2019

TAMU ISTIMEWA


TAMU ISTIMEWA

Sudah menjadi sebuah kebiasaan di rumah kami jika mendapatkan kabar akan kedatangan seorang tamu, maka seisi rumah akan berbenah. Setidaknya ruang tamu bersih dan tertata rapi serta tak lupa menyajikan kue atau minimal minuman air mineral. Pernah suatu ketika atau beberapa kali ketika tamu datang tanpa memberi kabar dan kami tidak bersiap-siap, sedikit rasa kecewa menggelayut dalam perasaan kami. Tidak mampu memuliakan tamu. Meskipun dalam pandangan yang bertamu, mereka berniat tak ingin merepotkan tuan rumah.

Ahad pagi, tepatnya 5 Mei 2019. Saya pun mulai berbenah seisi rumah sesuai dengan kesanggupan. Menurunkan standart perfeksionis harus sesekali dilakukan, karena tidak jarang ketika target harus segera diselesaikan riuh anak-anak akan menyita perhatian. Membuka semua pintu dan jendela rumah, membersihkan debu, menyapu lantai hingga mengepel selesai dilakukan dalam beberapa menit, tentunya atas ijin Allah. Aktivitas pagi ini menjadi lebih sibuk meskipun hari libur. Sesekali kami tampak tergesa-gesa harus segera menuntaskan satu pekerjaan dan segera beralih ke pekerjaan yang lain. Dan yang tidak kalah penting agenda utama kami pagi ini adalah menghadiri majelis ilmu di salah satu Masjid di kota kami. Anak-anak pun sudah disiapkan sejak semalam untuk bisa mengikuti pengajian dengan baik. Salah satunya adalah dengan mengijinkan mereka membawa beberapa mainan untuk mengatasi kebosanan di antara waktu yang cukup lama. Akhirnya dengan segala daya dan upaya tepat pukul 8 pagi kami semua sudah siap untuk berangkat, meskipun sesekali anak-anak harus dituntut untuk bersegera. Tidak mengapa lah menurut saya karena sedikit mengajarkan pada mereka untuk bersegera dalam kebaikan.

“Tamu istimewa itu akan segera datang nak, kita harus segera bersiap-siap”, begitu kata saya saat sesekali mendapati anak-anak mulai terdistraksi meninggalkan tugas mereka membereskan barang-barang mereka yang berserakan. “Siapa mik?” dengan rasa penasaran mereka menanyakan seolah membayangkan akan ada banyak teman datang dan bermain kerumah seperti ketika ada teman umi yang berkunjung mengajak semua putra putrinya. “Ramadan, nak. Allah hadirkan Ramadan ditengah-tengah kita membawa banyak keberkahan”. Nampaknya rasa penasaran akan tamu istimewa belum juga membuat mereka puas dengan jawaban umi. Memang tidak mudah memahamkan pada anak-anak tentang hal yang tak kasat mata bagi mereka. Perkara tentang keberadaan Tuhan, malaikat, nabi dan masih banyak lagi. Lagi-lagi emak dituntut untuk banyak belajar bagaimana menumbuhkan fitrah keimanan pada anak.

Keimanan memang tidak diturunkan dari orang tua pada anaknya. Maka keteladanan menjadi ikhtiar dan doa menjadi kunci utama agar keimanan ini mendarah daging pada jiwa putra putri kita. Semoga ikhtiar menjemput tamu istimewa, Ramadan, dengan suka cita menjadi teladan bagi mereka yang akan terus mereka kenang. Jika menyambut tamu yang berkunjung hanya beberapa jam saja banyak persiapan yang harus dilakukan. Lantas bagaimana dengan Ramadan yang menjadi tamu istimewa sebulan lamanya. Tentulah banyak hal yang harus disiapkan untuk menjamunya agar keberkahan Ramadan senantiasa mengiringi rumah kita. Tak cukup menghias dengan penampilan fisik, tempelan beraneka tulisan dan pita, atau mungkin baju baru dan yang lainnya. Maka amalan ibadah utama di bulan Ramadan juga menjadi jamuan yang akan membuatnya makin istimewa. Inilah keteladanan utama, semoga Allah mengijinkan Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga Allah semakin menguatkan keimanan kami sebagai orang tua, dan menumbuhkan keimanan pada jiwa putra putri kami.

Solichati, 7 Mei 2019 (2 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-1



Sabtu, 08 Desember 2018

WANITA DALAM BILIK

WANITA DALAM BILIK

Tiap pagi, tiap saat dan tiap hari. Suasana rumah selalu ramai dengan pergerakan alat-alat rumah tangga. Hentakan kaki-kaki mungil, mondar mandir mengelilingi sudut rumah. Lalu lalang pemilik rumah menjalankan peran peradabannya. Mungkin kita bisa bayangan betapa lelah dan penat para pelakunya.
Terlebih pelaku utamanya, wanita yang usinya tak lagi muda.

Ini tentang peran. Jika saatnya panggung digulung, maka tempat kembali paling bersahaja adalah bilik-bilik rumah kita. Menyiapkan generasi terbaik pewaris peradaban. Ya dalam bilik-bilik rumah itu semua peran peradaban sedang diperagakan.

Bilik dapur. Betapa ruang ini menjadi yang paling sibuk menyiapkan asupan terbaik bagi semua anggota keluarganya. Kesibukan pagi terkadang membuat wanita tak sedikit yang tak sanggup menahan amarahnya. Panas kompor, diburu waktu karena harus mengantarkan anak-anaknya menuntut ilmu dalam kondisi perut tak lagi kosong. Satu yang dipelajari olehnya senyum. Begitulah yang ia usahakan untuk meredam semua amarahnya.

Bilik tengah. Mungkin sebagian besar menggunakan untuk ruang keluarga. Ngobrol santai dan bermain bersama. Ini pula yang menjadi bilik yang paling berantakan saat semua anak-anak bermain tanpa kenal lelah. Mungkin akan bersih sesaat ketika para pelakunya menuntut ilmu diruang lain diluar rumah. Tapi saat kaki mungil mereka menginjak lagi, jangan harap bilik ini akan tetap rapi. Mimpi. Satu yang dipelajari oleh wanita itu, tak pernah bosan mengulang aktivitas yang sama, menutup mata atas pemandangan yang tak sedap dan melibatkan mereka untuk berbenah meski kadang hanya sesaat.

Bilik kamar. Mungkin sebagian besar orang mengira inilah bilik paling romantis pasangan suami istri. Tapi apa daya ketika lelah suami hendak bertemu pelayanan istrinya. Sisa tenaga tak memungkinkan untuk mengabdi pada suami. Melepas lelah dan penat yang telah seharian menguras energinya.

Bilik kamar mandi. Bilik inipun menjadi yang tak pernah sepi sejak anak-anak ini mulai bereksplorasi. Hilir mudik cucian kotor menjadi bersedih dan kotor lagi. Ah andai mesin cuci itu bisa ngomong, dia pun akan mengeluh lelah atas tugas yang diembannya.

Dan masih banyak lagi bilik lain dalam rumah ini yang tak pernah sepi. Sungguh luar biasa wanita yang ada di dalamnya. Semoga semua lelah nya berbalas pantas dan setimpal. Tentunya jika ia meniatkan dengan benar. Maka seperti ada pemakluman jika wanita ini tak bisa bersabar atas apa yang harus dilakoninya. Menggerutu, menaikkan volume suara semua dilakoni untuk melepaskan kelelahan hati. Benarkah ini wajar?? Bagi mereka yang paham tentu tidak demikian.

Wahai wanita panjangkan sujudmu, kuatkan doamu, kerahkan semua mampu dan ilmumu untuk surgamu. Ya karena citamu panjang menembus waktu. Surga. Jika saja mendapat surga itu semudah membalik telapak tangan, tak akan kau jumpai naik turunnya kehidupan. Semua berawal sabar dan syukur. Semoga ini menjadi kendaraan terbaik mhenggapai surga. Aamiin.

Solichati, 6/12/2018

#ChallengeRumbelMenulis

Jumat, 21 September 2018

TUJUAN HIDUP

MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR

Kelelahan... Kuwalahan... Banyak tugas yg tak terselesaikan sesuai dengan target yg diharapkan. Siapakah yg merasa cukup dengan sehari 24 jam, sepekan 7 hari, dengan semua aktivitas yg dilakoni??? Pasti hampir semua kita demikian, bahkan jika boleh meminta akan meminta tambah waktu dan hari.

Mencoba menata waktu pun sudah dilakoni. Menata kesibukan dan menata yang lainnya tetap saja belum memberikan solusi. Membuat list aktivitas harian, memangkas hal2 yang tak perlu dilakoni juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Entah cara apalagi yang selayaknya bisa dilakukan...

Mencoba instrospeksi diri. Mungkin ada yang salah dari prioritas yang diterapkan. Mungkin ada yang terlupa hingga semua aktivitas ini berorientasi pada urusan dunia, ya sebatas dunia. Mungkin kita lupa bahwa merujuk pada tujuan akhir mengingat kan kita pada hakikat penciptaan dan tujuan hidup kita.
Ya mungkin terlampau terlena dengan urusan dunia hingga melupakan akhirat. Merujuklah pada akhirat... Sejatinya untuk apa kita diciptakan?  Bukankah dunia ini hanya tempat persinggahan sementara dengan segala kesenangannya yang menipu?  

Begitulah Allah mengingatkan dalam banyak ayat Alquran tentang kehidupan dunia yg hanya sementara dan penuh kesenangan yg menipu.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakiran dikedua pelupuk matanya, dan ia tidak mau dunia kecuali menurut ketentuan yg telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yg tujuan hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusan nya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatangi nya dalam keadaan hina (hadits)

Barangsiapa siapa meluangkan waktu untuk beribadah pada Allah maka Allah akan mencukupkan urusannya dan meniadakan kefakiran dari pelupuk matanya. Tetapi barangsiapa tdk melakukan nya maka Allah akan memenuhi kedua tangannya dengan kesibukan, dan menampakkan kefakiran dikedua pelupuk matanya

Semua ini menjadi pengingat bahwa mendahulukan hak Allah akan menjadi solusi menyelesaikan semua urusan yang tdk tertata dan terkondisikan. Bismillah mencoba berbenah dari dalam... Menata prioritas Allah yg utama dari semua urusan yang lainnya.

Solichati, 20 September 2018

Jumat, 07 September 2018

SABAR DAN SYUKUR

PINTU MASUKNYA SETAN

Entah berapa kali kata yg memerintahkan diri untuk banyak bersyukur dan meningkatkan kesabaran. Mudah?? Tentu tidak, terlebih bagi mereka yg mendapatkan ujian. Menjalankan nasehat untuk sabar dan syukur tidaklah mudah. Tapi ini perintah Allah, maka tidak ada alasan untuk tidak menjalankan. Yang ada adalah memperbanyak belajar dan ikhtiar untuk sabar dan syukur.

Salah satu cara masuknya godaan setan adalah ketika rasa sabar dan syukur tak lagi menghiasi tindak tanduk kita. Disinilah setan akan menggelapkan mata dan hati sehingga terhalang untuk melihat banyak nya kenikmatan sehingga memperbanyak syukur, dan tabah dengan ujian sehingga memperbanyak untuk meningkatkan kesabaran.

Wahai diri... Bertemanlah dengan sabar dan syukur. Berkawanlah dengan dengan terus belajar untuk memperbanyak dan meningkatkan kesabaran dan kesyukuran. Sebuah keniscayaan kita akan belajar untuk memandang segala hal dari kacamata positif dan kebaikan. Mengurangi cara pandang negatif terhadap apa-apa yang dikehendaki Allah pada diri kita. Atas ijin Allah pintu setan pun akan tertutup untuk menjauhkan hati-hati kita dari petunjuk Allah.

Sabar dan syukur adalah dua kendaraan terbaik dalam mengarungi hidup.

Solichati,7/9/2018

Jumat, 31 Agustus 2018

LELAKI TERBAIK


LELAKI DAN PENGABULAN DO’A

Lelaki terbaik itu telah dilahirkan dari keluarga pilihan, salah satu keluarga panutan di Jazirah Arab. Lelaki terbaik itu, Dia yang telah mengorbankan harta, jiwa dan keluarganya untuk umat yang bahkan belum pernah ditemuinya hingga akhir usianya. Ya dialah lelaki terbaik yang menghadirkan penerang dalam kegelapan… mengajak banyak manusia beralih dari kegelapan menuju jalan cahaya yang terang benderang. Dialah Rasulullah… Dialah Rasul akhir zaman. Dialah penutup para nabi, penyempurna agama para Nabi sebelumnya…

Lelaki paruh baya ini telah ditakdirkan Allah menjadi bagian dari hidupku. Menjadi sosok lelaki terdekat yang memberikan banyak ketenangan dan keteladanan hidup. Sosok yang tegas dan beribawa dengan segala cara berpikirnya. Dialah yang telah menggambarkan baik buruknya jalan hidup seseorang di dunia. Dialah yang teladan terdekat yang memberi arti makna kehidupan tetap berada pada jalan terbaik. Dialah yang membesarkan dan mendidik dengan harta yang halal. Dialah yang membuat diri merasa puas dengan cinta seoarng lelaki tanpa harus menjalin hubungan tidak halal dengan lelaki yang bukan mahram. Dialah yang telah melepaskan diriku dengan sejuta doa bertemu lelaki yang akan menghalalkan semua yang diharamkan. Ya Rabb dialah ayah yang tak kan bisa tergantikan oleh siapapun… Meski tak akan bisa mengalahkan lelaki terbaik, Nabi Muhammad, tetapi dialah yang terbaik yang ditakdirkan Allah menjadi ayahku.

Lelaki muda berjenggot tipis yang kini berusia mendekati kepala 4, menjadi lelaki kedua yang terdekat, yang terbaik dan memberikan keteladanan saat menjalani hidup bersama. Lelaki yang telah meminta diri dari orang tua dan menghalalkan diri dengan cara terbaik. Tak kenal sebelumnya, tetapi rela mengorbankan semua yang dimiliki untuk mendapatkan diri dengan cara yang di ridhoi Nya. Dialah suamiku… Ayah dari anak dan keturunanku… Dialah yang telah memilih diri menjadi pasangan hidup yang akan menjaga harta yang dititipkannya padaku.
Pernah suatu hari kuberdoa, semoga Allah menghadirkan tambatan hati yang seperti ayahku. Maka kini jawaban atas doa itu perlahan dibuktikan oleh Allah. Apa yang kucinta pada ayahku aku temui pada suamiku. Allah pun membuat ku merenung bahwa inilah sosok  yang pernah kuhadirkan dalam doa meski namanya tak kusebutkan dalam doa.

Ya Rabb ijinkanlah kelak kami bertemu dengan manusia terbaik, Rasulullah, Muhammad. Jadikan kami kaumnya yang akan mendapatkan syafaatnya.
Ya Rabb jadikan ayahku sehat dan barokah usia hingga penghujungnya… Tetapkan ia sebagai lelaki yang terbaik karena menghadirkan kami semua putra putri terbaiknya.
Ya Rabb jadikan suamiku tetap menjadi yang terbaik hingga ujung usia kami. Jadikanlah ia suami dan ayah terbaik bagi anak keturunan kami.
Semoga engkau menganugerahkan putra2 kami menjadi lelaki terbaik bagi orang yang kelak dipimpinnya… Aamiin.

Solichati, 31/8/2018