Tampilkan postingan dengan label Rumbel Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumbel Menulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2019

PERJANJIAN


ANTARA AKU DAN TUHANKU

Hingga detik ini masih saja berusaha mengingat kejadian maha hebat saat aku diminta berjanji pada tuhanku. Masih saja aku tak bisa mengingat seperti apa kejadiannya. Yang kutahu ternyata ini tak hanya terjadi pada diriku. Tentunya kuyakin terjadi pada semua makhluknya. Bukankah demikian?
Yang kutahu lagi sesuai dengan keyakinanku, bahwa perjanjian itu terjadi saat aku masih dalam Rahim ibuku diusia 120 hari. Dan itu kuyakini tanpa keraguan sedikitpun.

Maka sejak saat itu semua yang kulakukan seharusnya terikat dengan janji yang kuucapkan. Mengakui bahwa Dial ah Tuhan yang berhak kusembah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha mengatur segalanya dalam hidupku sekecil apapun urusan yang terjadi pada diriku. Setelah sekian tahun menjalani usia hidup, tak bisa kupungkiri terkadang keyakinan itu berlangsung naik dan turun. Ada kalanya aku merasa begitu dekat hingga aku merasa seperti di dekap. Merasa bahwa Dia selalu ada untuk melindungi dan menguatkanku menjalani ujian hidup. Namun tak bisa kupungkiri disisi lain saat iman ini mulai melemah, kadang aku merasa pengawasan Nya tak kurasakan. Entah berapa kali aku selalu merasa dekat, dan berapa kali aku merasa jauh. Entah lebih banyak mana antara dekat dan jauhku?

Anehnya Dia tak pernah menjauhiku. Jika aku merasa Dia jauh dan tak peduli padaku, sungguh itu karena aku yang menjauh. Betapa tidak? Tak terhitung berapa kali dalam sehari aku tak bersegera memenuhi panggilan Nya hanya sekedar untuk bersujud dengan penuh penghormatan. Tak jarang enggan melibatkan Nya dalam menyelesaikan urusan ku. Seringkali memohon agar di bimbing untuk menyelesaikan masalah dalam hidup, tapi tak jarang juga masih meragukan pilihan keputusan dan masih mengedepankan hawa nafsu untuk menyelesaikan semua masalah. Ya hawa nafsu atas keinginan pribadi yang tak sanggup dikendalikan. Terkadang kita merasa bahwa semua yang kita putuskan sudah melibatkan Nya, tapi tidak. Dan jika ujian datang berulang tak jarang bisikan hati ini sering menyalahkan Nya yang seolah tak menyayangi kita. Keraguan itupun tak terasa menemani kita ketika bersusah payah mengupayakan sesuatu yang sudah dijamin oleh Nya, hingga kita melupakan amanah yang lebih utama harus kita tunaikan pada Nya. Betapa diri ini sangat ingkar akan kuasa Nya terhadap segala sesuatu. Andai saja Dia mau berkehendak membuat kita jera dengan cara yang buruk, Dia pun kuasa melakukannya. Tapi apa yang kita dapatkan, Dia masih memberikan kita kesempatan untuk berbenah dan berbenah. Bukankah Dia terlalu sangat menyayangi kita?

Saat diri ini terlalu sering ingkar, Dia tetap hadir menebarkan kasih dan sayangnya. Dikala diri ini menjauh Dia tetap mendekat untuk mengajak kita mendekat. Dikala diri ini dalam kondisi sangat buruk, Dia menutup semua aib kita hingga tak ada satupun orang yang tahu betapa kita tak layak lagi menegakkan kepala dan berlaku sombong dimuka bumi ini. Dial ah Tuhanku yang selalu tak putus berharap hamba Nya akan datang mendekat, memohon ampunan. Itulah yang Dia suka, hamba Nya yang merendah, memohon dan bertaubat agar Dia meridhoi semuanya. Bukankah kunci surga itu bisa dimasuki adalah lantaran Rahmat dan keridhoan Nya.

Lantas apalagi yang akan aku upayakan kecuali menebalkan keimanan dan ketakwaan. Bahwa semua yang terjadi pada diri ini adalah urusan ku dan Tuhan ku. Semoga selalu masih ada waktu untuk menyiapkan diri kembali dalam keadaan terbaik. Sebaik-baik keadaan di hadapan Nya.
Ya Rabb bombing hamba Mu ini.

Solichati, 16 September 2019

#Minggu ke-2
#September
#ChallengeMingguan
#RumbelMenulis
#IIPMalangRaya




Senin, 02 September 2019

IMAN


JIKA IMAN ITU ADALAH SUMBER KEKUATAN

Aku memang manusia. Ya manusia biasa saja. Mungkin dengan kekuatan rata-rata atau bahkan mungkin dibawahnya.

Sekali waktu aku merasa energi tubuh ini melimpah ruah hingga sanggup melakukan rangkaian aktivitas tanpa jeda. Merasa selalu bahagia hingga seolah tak ada tumpuan beban hidup yang terkadang membuat nafas sedikit tersengal. Aura bahagia dan semangat yang mampu mengubah diri menjelma menjadi malaikat bagi semua orang di sekitar, hingga semua turut bahagia dan bersemangat. Meski tanpa pernah kusadari berapa lama energi bahagia ini merasuki tubuhku. Entah hanya dalam bilangan jam atau hingga berganti hari. Aku tetap semangat dan mampu menyemangati. Seolah akulah manusia terkuat kala itu. Tanpa tandingan.

Lelah… Tak berdaya… Tak sanggup berpijak… Kehilangan pegangan…
Tiba-tiba saja hadir tanpa kuminta. Merasa tak sanggup berdiri bahkan hanya untuk menopang diri sendiri. Merasa tak kuat menunaikan semua tugas yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Jangankan memberi energy pada yang lainnya, mempertahankan energy sendiri untuk bertahan saja aku kelimpungan. Tak sanggup membuka mata, tak sanggup melebarkan bibir untuk tersenyum.
Redup mungkin itu aura yang tertangkap. Tak bergairah, tanpa energy tersisa. Entah mengapa ujian ringan saja kadang terasa begitu menghimpit jika kondisi diri tak lagi prima. Seperti tak sanggup merasa bahagia…

Ada yang pernah mengatakan Iman ini harus terus dikuatkan karena ia adalah sumber energy dalam kondisi apapun. Iman ini harus terus diperbaiki dan dimintakan pada Nya. Karena hanya Dia yang sanggup menjaga kita dalam koridor yang baik-baik saja. Ya benar saja adanya. Begitulah iman ini terus membuat kita yakin bahwa tak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Nya. Iman ini membuat kita yakin bahwa akan ada jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka. Iman ini yang membuat kita tetap mampu menahan diri tetap dalam jalan yang benar ketika bahagia datang tak bertepi atau bahkan kesedihan datang bertubi-tubi.

Betapa banyak di antara mereka yang tak lagi dikaruniai iman, ketika bahagia datang tak bertepi mereka lupa mensyukuri hingga mereka merasa bahwa bahagia itu karena jerih payah mereka. Mereka lupa bahwa ada kuasa diluar dirinya yang menghendaki bahagia itu ada. Atau sebaliknya banyak diantara mereka yang justru kehilangan iman saat kesedihan datang menghimpit bertubi-tubi. Merasa sendiri hingga meyakini bahwa Tuhan tak lagi mengasihi. Entah aku bagian dari yang mana di antara mereka. Termasuk yang manakah kita diantara mereka?

Maka bersyukurlah yang dikaruniai Iman tak bertepi hingga Tuhan menjaganya dalam kebaikan baik di kala bahagia menghampiri atau dikala ujian menghimpit. Jangan pernah lupa memohon agar kita tetap dijaga dalam iman yang tak bertepi… Karena semua terjadi atas kuasa dan kehendak Nya. Maka Dialah sebaik-sebaik tempat kembali dikala suka maupun duka. Dia hanya ingin kita mendekat, merapat dan mengakui bahwa kuasa hanya ada padaNya. Biarkan iman ini ada untuk menjaga kita tetap kuat dalam kebenaran kala bahagia hadir menghampiri. Biarkan iman ini ada untuk menguatkan kita tetap bertahan dalam kebenaran kala kesedihan menghimpit bertubi-tubi. Biarkan iman itu menjadi sumber kekuatan kita, alasan mengapa keajaiban itu bisa hadir dan nyata.

Solichati, 2 September 2019

#Minggu ke-4
#Agustus
#ChallengeMingguan
#RumbelMenulis
#IIPMalangRaya




Jumat, 30 Agustus 2019

RUMAHKU SURGAKU


Hasil gambar untuk rumahku surgaku

(https://images.app.goo.gl/To2pNrQSKqEiH1yh7)

KERANGKA TULISAN
Belajar kembali menulis dengan sistematis dan menuangkan ide dengan alur yang berurutan memang tidak mudah. Terkadang jika mengalami kebuntuan tulisan kita akan berhenti semua ide tertuang dengan baik. Atau bahkan sebaliknya jika ide bermunculan dengan sendirinya terkadang tulisan justru meluas tidak sesuai dengan poin yang diharapkan. Setidaknya dengan membuat kerangka tulisan akan membantu ide tertuang dengan berurutan dan sesuai dengan tujuan awal penulisan.
Kerangka tulisan yang saya buat untuk menuangkan ide sebagai berikut :
Tema : melacak jejak surga dari rumah kita, menghadirkan surga dalam rumah kita.
Alur tulisan :
1.       Memaknai surga dalam rumah kita
2.       Mengapa penting menghadirkan surga dalam rumah kita
3.       Siapa sajakah yang akan berperan menghadirkan surga dalam rumah kita
4.       Usaha apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadirkan surga dalam rumah kita

*** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ***
MENGHADIRKAN SURGA DALAM RUMAH KITA

          Ungkapan Rumahku, Surgaku mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Layaknya menjadi harapan semua orang merasakan kenikmatan surga hadir di dalam rumah-rumahnya. Meskipun boleh di bilang masing-masing dari kita belum pernah tau surga yang sebenarnya itu seperti apa, tetapi hampir semua kita memiliki penggambaran yang sama tentang surga. Penuh dengan kenikmatan dan kenyamanan. Beginilah kenikmatan, kenyamanan dan ketenangan layaknya di surga yang kita harapkan hadir dalam kehidupan berumah tangga.
             Pentingkah menghadirkan suasana surga dalam rumah-rumah kita? Tentunya masing-masing dari kita memiliki pendapat yang berbeda. Bagi penulis, menghadirkan suasana surga dimulai dari dalam rumah itu sangat penting. Rumah adalah awal mula semua aktivitas kehidupan untuk bisa menebar manfaat keluar. Maka energi kebaikan itu sejatinya dimulai dari dalam rumah kita. Dalam salah satu ayatnya pun Allah menegaskan bahwa menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka itu harus lebih diutamakan. Seharusnya tidak ada kaidah terbalik, suasana surga itu harus tercipta terlebih dahulu dari dalam rumah sebelum mampu memberi kebaikan keluar rumah kita. Sudah banyak contoh kejadian di sekitar kita. Penyimpangan yang terjadi di lingkungan luar itu sebagian besar disebabkan oleh kondisi yang tidak harmonis dari dalam rumah. Sebagai contoh banyaknya kasus perselingkuhan, perceraian, kenakalan anak dan remaja dan masih banyak contoh kasus yang lainnya.
                Menghadirkan suasana surga didalam rumah itu tentu saja tidak mudah. Tidak terjadi begitu saja. Harus ada usaha semua anggota keluarga untuk mewujudkannya. Dimulai sejak meletakkan pondasi, hingga menciptakan bangunan surga dalam rumah tangga. Semua anggota keluarga harus menghadirkannya sesuai dengan peran masing-masing.  

Pertama, Peran suami dalam menghadirkan surga
                Suami sekaligus ayah adalah unsur yang pertama kali harus dibentuk untuk mampu menghadirkan surga dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala rumah tangga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk suasana rumah tangga. Maka lelaki yang berakhlak mulia lah yang mampu menghadirkan surga dalam rumah tangganya.
Nabi SAW bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At Tirmidzi)
Dalam hadits tersebut diatas tersirat bahwa orang yang paling tinggi derajatnya adalah orang paling baik perilakunya kepada keluarganya. Keluarga adalah orang pertama yang paling berhak mendapatkan kebaikan kita, wajah dan senyuman terbaik, cara bergaul yang terbaik, mendapatkan manfaat dan terlindung dari bahaya. Dalam hal penghasilan bagaimana seorang suami juga harus mengupayakan memperoleh yang halal, karena kehalalan rezeki itu akan berpengaruh besar pada bisa tidaknya suasana surga hadir dalam rumah tangganya.

Kedua, Peran Istri dalam Menghadirkan surga
                Istri sekaligus ibu, sebagai manajer rumah tangga memiliki pengaruh yang besar dalam menciptakan surga dunia dalam rumah tangga. Ia lah istri sholihah, sebagaimana sabda Nabi SAW :
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah” (HR Muslim).
Istri yang salihah adalah istri yang mampu menyenangkan jika dipandang, taat saat diperintah dan menjaga dirinya saat keluar rumah. Ia akan selalu menyenangkan suaminya, membuatnya bangga. Sebagai ibu, ia akan selalu menghadirkan surga di bawah telapak kakinya, kemanapun ia melangkah maka sekelilingnya akan senyaman dan seindah surga. Mampu memdidik dan membahagiakan hati anak-anaknya, membuat anak betah berlama-lama bersama ibunya.

Ketiga, Anak-anak yang menghadirkan surga
                Anak-anak juga merupakan unsur penting menghadirkab surga dalam rumah tangga. Jika kondisi anak-anak bermasalah maka kebahagiaan orang tua pun akan hilang, suasana surga tidak akan didapatkan. Siapakah anak-anak yang mampu menghadirkan surga? Ialah anak-anak yang salih dan salihah. Sebagaimana sabda Nabi SAW :
“Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya”. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)
Merekalh anak-anak yang senantiasa menjalankan kewajiban agama dan menjauhi dosa. Maka pendidikan anak-anak menjadi hal utama yang harus diperhatikan agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang salih salihah, menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya dan tumpuan harapan kebaikan, menjadi generasi penerus bangsa yang menjajikan.

                Menghadirkan suasana surga dalam rumah tangga tentunya harus diupayakan. Selain menjalankan peran yang sesuai, maka upaya lain diantaranya :
  1.         Bergaul dengan cara yang patut. Hal ini dilakukan dengan memperindah ucapan atau cara berkomunikasi dengan anggota keluarga dirumah, memperbaiki perbuatan, memperbaiki penampilan
  2.     Kondisi fisik rumah yang senantiasa bersih, rapi dan memberikan kenyamanan bagi penguninya
  3.        Mempersiapkan kebutuhan makan dan minum yang halal dan sehat
  4.       Bekerja sama semua anggota keluarga menyelesaikan semua tugas dan tanggungjawab rumah tangga

Tentunya usaha untuk menghadirkan suasana surga dari dalam rumah ini tidak semudah membalik telapak tangan. Maka selain usaha, senjata utama yang harus kita lakukan adalah memperkuat doa. Karena hanya Allah yang akan memampukan kita menunaikan semua tanggungjawab, dan doa adalah bagian dari permohonan kita pada Allah untuk dimampukan. Selamat berjuang menghadirkan surga dalam rumah kita. Menjemput surga dunia sebelum surga yang sesungguhnya.

Solichati, 30 Agustus 2019

#ChallengeBulanan
#RumbelMenulis
#IIPMalangRaya





Senin, 26 Agustus 2019

PELACAK JEJAK SURGA


JEJAK SURGA ITU DEKAT SAJA

Masih tetap saja sama, berulang kali. Untuk kesekian kali masih saja diuji untuk mengendalikan nafsu yang tak terbendung. Ibarat ujian sekolah mungkin ini yang dinamakan remedial atau ujian ulang. selama belum lulus menyelesaikan ujian dengan cara yang dikehendaki Allah, maka soal ujian hidupnya akan tetap sama. Masalah nya akan tetap sama. Allah hanya akan menguji sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya. Allah hanya ingin kita menjadi yang terbaik. Itu saja tidak lebih. Yang harus kita ketahui adalah ujian ini sebagai bukti cinta Allah pada kita, hamba Nya. Dia hanya ingin kita menangis, bersimpuh dan memohon. Dia hanya ingin kita melepaskan semua jubah kesombongan, yang membuat kita merasa sanggup menyelesaikan semua permasalahan. Sejatinya yang harus kita tahu dan yakini, bukan kita yang kuat hingga mampu menyelesaikan masalah. Tapi Allah yang membuat kita mampu dan memudahkan semua urusan kita.

Ujian ini bernama hiruk pikuk dunia. Inilah yang Allah tegaskan bahwa dunia adalah kesenangan yang menipu. Betapa banyak yang tertipu hingga berjalan menjauhi tujuan awal mengapa ia diciptakan. Kemenangan ada di pihak setan yang sudah bertekad menyesatkan anak keturunan Adam ketika nafsu tak lagi bisa dibendung untuk tertarik dengan dunia.

Aku mungkin salah satu di antara sekian wanita yang seringkali tergelincir dengan godaan dunia. Bisikan setan ini memang luar biasa, sangat halus hingga terkadang berbeda tipis antara kebaikan dengan keburukan. Menurut kita pilihan hidup ini baik tapi ternyata tidak menurut Allah. Kita meyakini bahwa amal yang kita lakukan akan membawa kita meniti jalan surga, bisa saja tidak, justru sebaliknya semakin membuat kita mendekati jurang neraka. Menyedihkan. Lantas apa yang kita harapkan kelak jika ternyata tak ada satupun amal yang memberatkan timbangan amal kebaikan.

Beginilah wanita akan selalu ditungganggi setan saat ia keluar dari rumahnya. Desiran hati nya mengatakan bahwa surga itu ada diluar sana, berharap akan mendapatkan surga dengan menebar manfaat pada sekitarnya. Setan membuatnya lupa bahwa orang sekitarnya yang paling berhak menerima manfaat adalah keluarganya. Sesungguhnya surga itu bisa jadi dekat saja. Ada dalam rumah kita. Tetapi hiruk pikuk dunia ini telah membuat cara berpikir ini bergeser. Menganggap bahwa surga itu diperoleh dengan amal besar dan tampak banyak. Hingga terlupa bahwa amal kecil saja bisa menjadi tersebab pintu surga dibuka lantaran ketulusan. Menyibukkan diri dengan amalan – amalan tambahan, hingga melupakan atau menganggap remeh amalan yang diwajibkan.  Akankah surga ini kita dapatkan dengan cara seperti ini??

Ahh kita memang tak akan pernah tau amalan mana yang akan membawa kita memasuki surga yang kita impikan. Memperbanyak amal itu memang harus tetapi tetap dengan tidak melupakan amalan yang lebih utama. Mengejar amalan tambahan dengan melalaikan amalan yang utama sama halnya dengan mendahulukan amalan yang sunah dengan meninggalkan yang wajib. Padahal seharusnya tunaikan yang wajib, amalan sunah adalah penyempurna. Wahai diri, wahai para wanita kembalilah memahami untuk apa kau dicipta?

Penghamba dunia, setan akan membuatnya lupa akan tujuan mengapa ia dicipta. Memutuskan hanya dengan akal dan rasa. Bukankah Allah sebaik-sebaik tempat meminta petunjuk ? Mintalah pada Nya petunjuk akan jalan menuju surga. Mintalah pada Nya agar jejak-jejak surga itu tampak dan kita bisa mengikutinya. Jejak dari yang terdekat saja. Jejak dari yang termudah saja. Jejak dari dalam diri kita terlebih dahulu. Yakinilah sesungguhnya jejak surga itu ada di dekat kita. Dekat saja. Setan yang menutup mata kita hingga jejak surga yang dekat menjadi tak tampak.  

Solichati, 26 Agustus 2019

#Minggu ke-3
#Agustus
#ChallengeMingguan
#RumbelMenulis
#IIPMalangRaya

Sabtu, 08 Juni 2019

BAGAIMANA LAPARKU HILANG

Hari ke 7 Ramadan drama tentang kerewelan anak-anak saat lapar menyapa belum menemukan jalan keluar yang tepat. Eh ayah bunda, jangan-jangan kita termasuk orang tua yang sering fokus pada masalah ya bukan pada solusi. Misalnya begini, saat lapar mulai menyerang kita bawaannya melihat ke belakang karena makan sahurnya kurang banyak, karena bangun nya kesiangan jadi sahur terburu-buru dan sederetan masalah lain yang kita ungkit sebagai penyebab utama mengapa rasa lapar terkadang muncul lebih awal.

Ternyata fokus pada masalah tidak akan menyelesaikan masalah. Bukan begitu?? Karena dengan mengungkit Masalah yang ada ternyata rasa lapar juga tidak kunjung hilang. Fokus pada solusi. Hari ini saya dan anak-anak mencoba mencari solusi yang tepat mengalihkan rasa lapar yang mulai menyapa sebelum waktu berbuka tiba. Setidaknya ada 3 solusi yang bisa dicoba sebagai distraksi rasa lapar yang mengganggu. Pertama bisa dicoba dengan mandi dan bermain air agar badan terasa lebih segar dan rewel berkurang. Kedua bermain yang tidak menghabiskan banyak energi. Dan ketiga tidur.

Maka sejak hari ini 3 solusi tadi akan dipilih sendiri oleh anak-anak untuk megusir rasa lapar dan haus yang mengganggu. Meski keduanya akan memilih cara yang berbeda sesuai dengan cara yang mereka suka. Maka dari ketiga solusi diatas yang paling sering dipilih adalah tetap bermain di dalam rumah, karena bagi mereka bermain tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan. Tidur adalah cara terakhir yang akan mereka pilih ketika semua upaya sudah dilakukan dan lapar haus tak kunjung mereda.

Kerja bagus anak-anak sholih. Semoga Allah membarokahkan setiap amal dan usaha mu berlatih puasa. Aamiin

Solichati, 12 Mei 2019 (7 Ramadan 1440 H)


#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-7

KEHENDAK ALLAH BERLAKU ATAS SEMUANYA

Masihkah kita meragukan jika Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini? Atau pernah kah kita menyangsikan bahwa sekecil apapun kejadian yang ada di sekitar kita semua berjalan atas kehendak Nya. Entah itu kejadian buruk ataupun baik. Bukankah setiap kejadian buruk yang terjadi tanpa kita inginkan adalah ujian untuk menguji kesabaran kita? Bukankan setiap kejadian baik yang sangat kita harapkan adalah ujian untuk menguji rasa syukur kita?

Kejadian pagi tadi di hari ke 6 Ramadan membuat saya tersadar dengan nyata bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Dalam urusan sekecil apapun. Selama ini mungkin saya sering lalai, hanya meyakini kehendak Allah atas peristiwa yang besar. Bahkan setiap gerak mimik wajah yang kita dapati pada raut muka seseorang pun terjadi atas kehendak Allah. Apa yang akan kita lakukan saat Allah membuat wajah orang di depan kita tampak sinis atau bahkan mengabaikan kita ? Seketika yang muncul adalah sikap manusiawi kita, kecewa. Lantas berprasangka yang tidak seharusnya. Lebih lanjut kita mencari pembenaran atas sikap kita. Lebih jauh kita memasuki ranah yang bahkan dilarang yaitu mencari-cari kesalahan orang lain yang sudah bersikap tidak baik pada kita.

Maka saat itu kita terlupa bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Kita hanya sebatas pemeran atas skenario yang disutradarai oleh Allah. Termasuk orang-orang di sekitar kita. Semua bermain peran atas perintah dan kehendak Allah. Inilah pengingat bagi saya bahwa yang Allah kehendaki dari kita adalah bagaimana sikap dan perilaku terbaik kita. Bahwa kita tidak akan dihisab atas perlakuan orang lain terhadap kita. Tetapi kita akan dihisab atas perlakuan kita pada orang lain. Maka cukup bermohon kepada Allah agar dibimbing menjadi manusia terbaik dalam menjalankan peran. Cukup balas keburukan orang lain dengan kebaikan yang sanggup kita upayakan.

Nyatanya kejadian ini adalah cara Allah mengingatkan diri untuk berbenah Menjadi lebih baik.


Solichati, 11 Mei 2019 (6 Ramadan 1440 H)


#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-6

TANPA PUTUS

Kata putus tak hanya menyedihkan untuk sebuah urusan ikatan. Entah itu persahabatan, persaudaraan ataupun ikatan yang lainnya. Ternyata kata putus inipun akan sangat menyedihkan untuk urusan membentuk kebiasaan. Terlebih kebiasaan baik yang butuh konsistensi hingga membentuk karakter. Dalam buku "Seven Habbits" yang menjadi best seller kala itu, disebutkan bahwa kebiasaan ini mampu membentuk karakter.

Butuh waktu setidaknya minimal 30 hari untuk membentuk kebiasaan tanpa putus. Ada yang mengatakan jika terputus 1 hari maka harus mengulang dari hari pertama. Dan memang benar adanya. Tanpa putus harus dilakukan untuk membentuk sebuah kebiasaan. Banyak cerita para bunda yang kesulitan memulai lagi untuk melatih toileting balitanya ketika latihan ini terputus sesaat bahkan hanya dengan sekali menggunakan pospak setelah dibiasakan ke kamar mandi. Harus mengulang dari awal dan dengan energi yang tidak sedikit untuk bersabar. Dan tentunya masih banyak lagi kejadian lain yang membutuhkan konsisten tanpa putus untuk melatih kebiasaan.

Dalam dunia pendidikan anak, kunci utamanya adalah pada kesepakatan aturan dan konsisten menjalankan aturan yang sudah disepakati. Sama halnya dengan keimanan yang akan diuji bagi mereka yang mengaku beriman. Maka konsisten juga akan diuji dengan tantangan baik pada orang tua ataupun pada anak. Bagaimana kita orang tua berusaha untuk komitmen menerapkan aturan yang disepakati meskipun terkadang anak akan menunjukkan sikap perlawanan atau merayu orang tua untuk membelokan aturan sesuai keinginan mereka. Tantrum, bagaimana kita orang tua bisa menyikapinya dengan cara yang tepat. Karena sekali orang tua mengalah dengan rayuan atau rengekan anak, maka anak akan menghafal cara untuk meluluhkan pertahanan orang tua.

Alhamdulillah... Allah masih memberikan kesempatan untuk belajar konsisten dengan aturan yang disepakati bersama anak-anak. Salah satu aturan yang kami sepakati adalah _Noddle Time_ yang sebelumnya tidak ada aturan, hingga ada aturan seminggu Sekali. Dan dalam dua bulan terakhir bisa diikuti polanya oleh anak-anak dua pekan sekali jadwal makan mie. Semoga apa yang kami sepakati bukan sebagai sebuah paksaan tetapi lebih pada pemahaman akan aturan yang sudah disepakati. Belajar dan bertumbuh bersama menjadi lebih baik.

Solichati, 10 Mei 2019 (5 Ramadan 1440 H)


#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-5

DAHULUKAN ORANG LAIN

Kamis adalah salah satu hari dimana catatan amal di angkat kepada Allah. Maka sebaik-baik amal saat catatan itu diangkat adalah saat sedang berpuasa. Hari ke 4 Ramadan, masih dengan segala perjuangan mengkondisikan diri dan anak-anak menikmati puasa. Tak sekedar haus dan lapar tapi memberikan rasa bahagia akan pahala istimewa dari berpuasa. Walaupun bagi kami masih tetap tidak mudah menumbuhkan fitrah keimanan pada putra-putra kami. Semoga Allah senantiasa membimbing kami.

Ada hal yang berbeda setiap hari Kamis sejak Ramadan tahun ini. Pengajian menjelang berbuka menjadi program keluarga besar mengisi aktivitas mushola di dekat rumah kami. Berbuka bersama jamaah mushola menjadi akhir dari rangkaian kegiatan yang di awali selepas sholat ashar. Sepertinya hampir sebagian besar orang akan sangat berharap menjadi yang pertama mendapatkan jatah makan dan minum berbuka puasa. Karena melepas haus dan lapar yang sudah tertahan sejak seharian menjadi hal yang istimewa dikala puasa. Terlebih untuk anak-anak.

Kami menyadari betul bahwa menyegerakan berbuka adalah perihal yang sangat dianjurkan. Tapi momen pengajian kali ini kami sepakat untuk mendahulukan orang lain mendapat kan jatah menu berbuka. Berbagi itu berat, tidak mudah tapi Allah sangat cinta. Tak perlu memaksa anak untuk gemar berbagi, cukup orang tua yang harus berbenah untuk memberi contoh indahnya berbagi agar mereka meneladani.

Solichati, 9 Mei 2019 (4 Ramadan 1440 H)


#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-4

Rabu, 08 Mei 2019

MENANGISLAH SEKARANG NAK


MENANGISLAH SEKARANG NAK

Seharian ini, memasuki hari ketiga Ramadan. Pagi hari selepas sahur semua aman terkendali, bahkan anak-anak tampak menikmati paginya dengan bersepeda mengantar umi belanja dan keliling di sekitar rumah.  Seperti biasa  Si sulung yang terbiasa komitmen dengan waktu selalu menanyakan berapa lama boleh bermain sepeda dan meminta diingatkan ketika waktu bermain sudah habis. Karena pagi ini harus bersiap lebih awal ke sekolah. Alhamdulillah sejauh ini mas dan kakak sudah mulai terbiasa dengan komitmen waktu, meski belum memahami secara konkret bentuk waktu. Hanya sebatas memahami arag gerak jarum jam dan angka yang ditunjukkan.

Tanpa drama. Semua aman dan dilakukan sesuai kesepakatan. Waktu habis dan main sepeda diakhiri dengan bersegera ke kamar mandi. Kau tau bunda, ini masih belum seberapa jika dibandingan dengan drama di sisi lain, ya layaknya drama korea yang kadang mengundang tawa dan menghadirkan air mata, bahkan tak jarang membuat hati berdebar tak menentu layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Berdebar karena harap dan takut akan pola yang di ajarkan pada anak-anak. Pernah dongkol sesekali, ketika banyak sekali pengingat yang diberikan pada anak-anak tetapi tetap saja tak bersambut dengan perilaku yang diharapkan. Ahhh mungkin kita orang tua sering lupa bahwa tugas kita hanya ikhtiar berproses mengajarkan pada anak-anak. Urusan hasil baik tidaknya perilaku anak kita adalah kehendak Allah. Jadi jangan lupa iringi semua dengan doa memohon penjagaan Allah atas anak-anak kita. Jangan merasa jumawa atas proses dan pola didik. Jujur saja ini pengingat bagi saya pribadi.

Drama dengan konflik serunya bermula ketika anak-anak pulang sekolah. Datang dengan wajah cemberut dan emosi labil. Merengek tak karuan. Saatnya umi pasang tameng perlindungan agar semua aman. Heeee agak berlebihan ya tapi drama seru ini memang menyita energi hingga keamanan anak dan orang tua tetap harus dijaga. Kali ini tameng awal yang diserang adalah umi, karena mereka tau kalau fitrah ibu itu penyayang dan suka gak tega. Dan jangan lupa siapkan tameng kedua, abi yang siap menstabilkan kondisi. Siapa yang menang? Strategi siapa yang berhasil? Simak saja cerita selanjutnya.
“Umi aku lapar, haus mik”, begitu rengekan mas dan kakak sepulang sekolah
“Mas dan kakak mau minta apa? Berbuka sekarang?” ini tawaran tarik ulur ya.
Diam sejenak dan berpikir. “Enggak tau, tapi aku haus dan lapar”
“Oke umi tau anak-anak umi hebat, yuk kita tahan sampai waktu berbuka tiba ya. Minta tolong sama Allah biar dikuatkan, dihilangkan lapar dan hausnya”.
“Sudah mik tapi perut ku tetap lapar, leherku kering mik”
“Oke kita cari cara yang Allah suka ya nak, karena rewel tidak akan menguatkan puasa hingga waktu berbuka. Bagaimana jika tidur siang?”
“Aku gak mau tidur mik, nanti jadi gak bisa main”
“Oke kalau tidak mau tidur siang, harus kuat menahan tanpa rewel ya nak. Kalau tetap rewel, tidur siang jadi solusinya, karena sejak sahur belum tidur ya.”
Itulah sekelumit dialog di antara kami, yang sebenarnya masih banyak dialog lain terlebih pada penguatan nilai-nilai keimanan dan membangkitkan fitrah keimanan mereka. Tidak sekedar pada aturan dan konsekuensinya.

Sejenak setelah kesepakatan dibuat, rewel, lapar dan haus tetap tidak bisa dikendalikan. Akhirnya mereka sepakat untuk beranjak tidur siang dengan terpaksa. Alhamdulillah suasana kembali aman terkendali dan emak bisa umek di dapur menyiapkan berbuka puasa. Eh mungkin ada yang bilang kok tega banget sih anak kecil sudah dipaksa puasa kan belum wajib bagi mereka. Bagi kami ini bukan perkara paksaan puasa sampai maghrib. Kami orang tua sedang menjalankan kesepakatan dan membantu anak-anak menunaikan pilihan dan konsekuensinya. Berbuka sesuai dengan jam yang sudah disepakati. Kakak berbuka di waktu dhuhur dan lanjut puasa lagi hingga maghrib, sedangkan mas sedang belajar berpuasa maghrib. Bukan perkara tega atau tidak tega, bagi kami ini adalah proses pembelajaraan dan pembiasaan. Proses untuk belajar dengan pilihan, memutuskan dan bertanggung jawab atas keputusan.

Menangislah sekarang nak, jika itu akan menguatkan mu menghadapi ujian di masa depan. Abi dan umi akan membantu menguatkan mu siap menghadapi masa depan yang mungkin saat itu Abi dan Umi sudah tidak lagi membersamaimu. Karena tidak jarang ketika anak merengek menangis melawan kesepakatan yang ada, sesungguhnya dia sedang belajar cara melobi dan mencari kelemahan orang tuanya untuk memenuhi setiap keinginannya. Ada yang mengatakan jika kita orang tua tak sanggup dengan tangisan anak untuk menaati aturan, maka bersiaplah kelak kita orang tua yang akan dibuat menangis oleh anak-anak kita karena sudah terbiasa tidak menaati aturan.

Happy Ending nih drama hari ini, dan bersiap dengan drama selanjutnya. Poin penting yang tetap harus dijalankan adalah :
1.       Membuat aturan dengan kesepakatan bersama,
2.       Mendampingi ananda menjalankan konsekuensi atas setiap pilihannya,
3.       Menawarkan solusi yang bisa dilakukan anak-anak
4.       Kerjasama dengan pasangan atau patner dirumah untuk menjalankan aturan yang ada.

Good Job  anak-anak sholeh. Semoga Allah memberkahi proses belajar kita hari ini.
Ini cerita kami hari ini dengan nilai-nilai (value) keluarga yang kami sepakati. Tidak menutup kemungkinan ayah dan bunda memiliki pandangan dan cara didik yang berbeda. Selamat berbahagia membersamai buah hati.

Solichati, 8 Mei 2019 (3 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-3

MEMBERI DAN MENERIMA


MEMBERI DAN MENERIMA

Alhamdulillah memasuki hari kedua puasa Ramadan, anak-anak sudah mulai menikmati menahan rasa lapar dengan mengalihkan ke aktivitas yang bermanfaat dan mengusir kejenuhan. Melanjutkan menghias rumah dan membantu mengemas bahan pokok yang akan diberikan pada karyawan abi. Sembari membantu sesekali mereka bertanya mengapa harus membagikan sembako dan yang lainnya. Yap saat yang tepat mendiskusikan dengan anak-anak perintah Allah dan contoh Nabi tentang sedekah. Sebisa yang umi lakukan untuk memahamkan pada mereka bahwa dengan memperbanyak sedekah kita tidak akan miskin. Justru sebaliknya kita akan semakin kaya. Bahwa tidak setiap balasan kebaikan itu akan kita terima di dunia tapi akhirat yang paling utama. Dan meyakinkan mereka bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita, manfaatnya untuk kita.

Seperti biasa saya selalu belum tentu yakin bahwa diskusi tentang hal-hal yang tidak nyata sangat tidak mudah saat mendidik anak-anak. Memohon pada Allah semoga Allah memberikan peristiwa yang akan memudahkan mereka untuk memahami. Dan yap tidak lama setelahnya, rangkaian peristiwa pun Allah hadirkan sesuai kehendak Nya. Bel rumah berbunyi 3 kali saat umi sedang sholat ashar. Tamu tak di undang tapi membawa hantaran. Hahahaha siapa yang tak senang. Spontan anak-anak pun senang seperti sudah membayangkan akan berbuka dengan menu lezat pemberian orang. Tak hanya satu tamu, tamu berikutnya pun datang dengan tujuan serupa. Ya Rabb kenikmatan yang tampak di mata anak-anak tanpa bersusah payah. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Beginilah cara Allah tunjukkan kebaikan itu akan kembali pada kita sendiri, bahkan baru sebatas niat. Selagi paket sembako yang sudah dikemas rapi belum terkirim pada karyawan, Allah sudah mengirimkan paket makanan dari tangan-tangan yang dituntun Allah. Allah Maha Baik, Allah Maha Adil.

Meski jika ditelisik sempat terbersit keluhan pada hati umi. Hmmm kok hantaran datang dikala umi sudah selesai memasak menu berbuka. Seketika harus dihapus dengan banyak istighfar karena tak seharusnya nikmat yang Allah kirimkan masih harus berbalas dengan keluhan. Alhamdulillah berkahnya anak-anak senang dan tak perlu repot menyiapkan menu santap sahur. Bonus lebihnya lagi bisa menambah amalan di sisi yang lain.

Menjadi pengingat bahwa sering ketika sudah repot memasak, ternyata seisi rumah pun enggan menyentuhnya. Bahkan yang awalnya diniatkan menyiapkan hidangan ketika suaami pulanh harus berujung pada menu yang utuh tak tersentuh karena suami pulang sudah dalam kondisi kenyang. Nafsu nya bilang “Haaah tau gitu tadi gak usah masak!” Astaghfirullah. Bukankah semua yang kita lakukan harus kita sandarkan pada Allah, tanpa meminta balasan dari makhluk. Maka dari sini tak aka nada rasa kecewa yang berkepanjangan. Bahkan jika dirunut suami pulang dalam kondisi kenyang pun bisa jadi karena tak ingin merepotkan istri di rumah untuk menyiapkan menu dan yang lainnya. Berbaik sangkalah. Allah tetap tidak akan menyia-nyiakan proses.

Solichati, 7 Mei 2019 (2 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-2


Senin, 06 Mei 2019

TAMU ISTIMEWA


TAMU ISTIMEWA

Sudah menjadi sebuah kebiasaan di rumah kami jika mendapatkan kabar akan kedatangan seorang tamu, maka seisi rumah akan berbenah. Setidaknya ruang tamu bersih dan tertata rapi serta tak lupa menyajikan kue atau minimal minuman air mineral. Pernah suatu ketika atau beberapa kali ketika tamu datang tanpa memberi kabar dan kami tidak bersiap-siap, sedikit rasa kecewa menggelayut dalam perasaan kami. Tidak mampu memuliakan tamu. Meskipun dalam pandangan yang bertamu, mereka berniat tak ingin merepotkan tuan rumah.

Ahad pagi, tepatnya 5 Mei 2019. Saya pun mulai berbenah seisi rumah sesuai dengan kesanggupan. Menurunkan standart perfeksionis harus sesekali dilakukan, karena tidak jarang ketika target harus segera diselesaikan riuh anak-anak akan menyita perhatian. Membuka semua pintu dan jendela rumah, membersihkan debu, menyapu lantai hingga mengepel selesai dilakukan dalam beberapa menit, tentunya atas ijin Allah. Aktivitas pagi ini menjadi lebih sibuk meskipun hari libur. Sesekali kami tampak tergesa-gesa harus segera menuntaskan satu pekerjaan dan segera beralih ke pekerjaan yang lain. Dan yang tidak kalah penting agenda utama kami pagi ini adalah menghadiri majelis ilmu di salah satu Masjid di kota kami. Anak-anak pun sudah disiapkan sejak semalam untuk bisa mengikuti pengajian dengan baik. Salah satunya adalah dengan mengijinkan mereka membawa beberapa mainan untuk mengatasi kebosanan di antara waktu yang cukup lama. Akhirnya dengan segala daya dan upaya tepat pukul 8 pagi kami semua sudah siap untuk berangkat, meskipun sesekali anak-anak harus dituntut untuk bersegera. Tidak mengapa lah menurut saya karena sedikit mengajarkan pada mereka untuk bersegera dalam kebaikan.

“Tamu istimewa itu akan segera datang nak, kita harus segera bersiap-siap”, begitu kata saya saat sesekali mendapati anak-anak mulai terdistraksi meninggalkan tugas mereka membereskan barang-barang mereka yang berserakan. “Siapa mik?” dengan rasa penasaran mereka menanyakan seolah membayangkan akan ada banyak teman datang dan bermain kerumah seperti ketika ada teman umi yang berkunjung mengajak semua putra putrinya. “Ramadan, nak. Allah hadirkan Ramadan ditengah-tengah kita membawa banyak keberkahan”. Nampaknya rasa penasaran akan tamu istimewa belum juga membuat mereka puas dengan jawaban umi. Memang tidak mudah memahamkan pada anak-anak tentang hal yang tak kasat mata bagi mereka. Perkara tentang keberadaan Tuhan, malaikat, nabi dan masih banyak lagi. Lagi-lagi emak dituntut untuk banyak belajar bagaimana menumbuhkan fitrah keimanan pada anak.

Keimanan memang tidak diturunkan dari orang tua pada anaknya. Maka keteladanan menjadi ikhtiar dan doa menjadi kunci utama agar keimanan ini mendarah daging pada jiwa putra putri kita. Semoga ikhtiar menjemput tamu istimewa, Ramadan, dengan suka cita menjadi teladan bagi mereka yang akan terus mereka kenang. Jika menyambut tamu yang berkunjung hanya beberapa jam saja banyak persiapan yang harus dilakukan. Lantas bagaimana dengan Ramadan yang menjadi tamu istimewa sebulan lamanya. Tentulah banyak hal yang harus disiapkan untuk menjamunya agar keberkahan Ramadan senantiasa mengiringi rumah kita. Tak cukup menghias dengan penampilan fisik, tempelan beraneka tulisan dan pita, atau mungkin baju baru dan yang lainnya. Maka amalan ibadah utama di bulan Ramadan juga menjadi jamuan yang akan membuatnya makin istimewa. Inilah keteladanan utama, semoga Allah mengijinkan Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga Allah semakin menguatkan keimanan kami sebagai orang tua, dan menumbuhkan keimanan pada jiwa putra putri kami.

Solichati, 7 Mei 2019 (2 Ramadan 1440 H)

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-1



Sabtu, 28 Juli 2018

KELUARGA


HARTA YANG PALING BERHARGA

Hasil gambar untuk keluarga

Harta Yang Paling berharga adalah Keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Selamat Pagi Emak
Selamat Pagi Abah
Mentari Hari ini berseri indah

Terimakasih emak
Terimakasih Abah
Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti

Kalau tulisan di atas di nyanyikan membawa kenangan saya pada salah satu film yang di putar di stasiun televisi, kala itu usia masih belasan, tepatnya duduk di bangku sekolah dasar. Mengingatkan saya tentang makna keluarga, keharmonisan dalam hubungan orang tua dan anak, tentang tanggung jawab menjalankan peran sebagai orang tua dan anak. Bukankah memang ketika berbicara tentang keluarga pikir kita akan dibawa pada pelaksanaan peran sebagai anggota keluarga. Entah sebagai kepala keluarga, orang tua dan anak-anak. Dan kebaikan kehidupan keluarga akan ditentukan oleh masing-masing anggota keluarga yang menjalankan perannya dengan baik. Setidaknya inilah pesan moral yang saya tangkap saat mengikuti serial drama KELUARGA CEMARA.   

Setelah berangan dan mengenang serial drama yang belum tentu ada dalam kehidupan nyata. Angan ini pun membawa saya mengenang kembali rangkaian kisah kehidupan belasan atau bahkan puluhan tahun silam saat masih bersama tinggal serumah bersama kedua orang tua dan saudara. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan keluarga akan selalu baik dan bahagia sesuai dengan harapan, suka duka, sedih, bahkan sakit yang kita rasakan pun akan kita alami dalam keluarga. Tak yang sempurna, karena kesempurnaan bukan milik kita. Begitupun dengan keluarga inti saya saat itu. Saya terlahir sebagai anak terakhir, diantara semua saudara perempuan saya. Terlahir terakhir dikala kondisi perekonomian keluarga sudah membaik adalah bagian dari rezeki yang sudah di gariskan oleh Yang Maha Mencipta.

Orang tua…syukur tiada kira ditakdirkan Allah terlahir dari mereka, meski tak sempurna memberikan segalanya. Dari mereka saya belajar banyak hal, tentang harga mahal sebuah rasa syukur. Tentang ujian berat untuk tetap bersabar. Meski kala itu orang tua belum memahami sepenuhnya tentang ajaran agama yang dianutnya, setidaknya saya belajar banyak memaknai perjuangan hidup untuk tetap berjalan di jalan kebaikan sesuai norma yang ada. Ya… atas doa dan restu mereka pula perlahan hidayah dan jalan hijrah ini pun menjadi pilihan untuk berbenah. Tak selang berapa lama Allah pun mendekatkan hidayah dan hijrah pada keduanya. Alhamdulillah…

Saudara… tak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup hidup sebatang kara. Jika Allah menghendaki seseorang terlahir sebagai anak tunggal, Allah pun menggantinya dengan persaudaraan bersama yang lainnya. Memiliki 2 orang kakak dengan karakter yang berbeda membuat saya belajar banyak hal. Setidaknya dari mereka saya belajar untuk menjadi berbakti, belajar menghormati dan menghargai.

Mencoba mengingatkan diri, tak akan kita miliki kesempurnaan dalam keluarga. Sabar dan syukur inilah yang menjadikan keluarga mebjadi sempurna dimata kita. Belajar ikhlas dengan takdir kita terlahir dari keluarga yang kita miliki apapun kondisinya. Sejauh apapun diri melangkah, keluarga adalah tempat pulang terbaik. Sehebat apapun diri berawal dari keluarga yang tak lelah mendukung dan mendoakan. Sebaik dan seburuk apapun diri hanya keluarga yang akan mau menerima dalam keadaan apapun…

KELUARGA
harta yang paling berharga – istana yang paling indah – puisi yang paling bermakna – mutiara tiada tara

Solichati, 29Juli2018

Jumat, 20 Juli 2018

UJIAN HIDUP

Hasil gambar untuk ujian hidup

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
QS Al Baqarah : 286

MASALAH INI LAGI !
ORANG INI LAGI !
KENAPA JUGA UJIAN HIDUP INI KOK BERULANG PADA HAL YANG SAMA ??

Pernah gak sih pertanyaan semacam ini muncul dalam benak kita? Tanpa kita sadari terkadang ujian hidup kita berkutat pada masalah yang sama dan berkali-kali. Misalnya saja masalah kesabaran pada pasangan yang beda kebiasaan, berhubungan dengan orang yang karakternya bertolak belakang dengan kita, masalah dengan anak-anak yang menguji kesabaran, masalah dengan orang tua, masalah ekonomi dan penataan kuangan atau masih banyak lagi yang lainnya.

Tetapi dikarenakan kita sibuk mengeluh jika ujian datang, nampaknya kebanyakan kita lupa mengambil hikmah dari tiap ujian, sehingga kita tidak menyadari pola ujian yang diberikan Allah akan selalu berulang. Ibarat ujian sekolah, mungkin bisa saja disebut REMIDI dengan ujian hidup ini. Mengapa berulang terus?? Namanya juga ujian kalau nilainya belum bagus, sudah selayaknya diulang-ulang sampai kita berhasil melampaui ujian ini dengan predikat Cumlaude. Mungkin itu yang dikehendaki Allah untuk menguatkan titik kelemahan kita. Yah inilah ujian hidup, ketika kita berdoa meminta dikuatkan maka Allah akan memberikan banyak masalah agar kita belajar menjadi kuat menghadapi ujian.

Begitu pula dengan yang saya alami, belajar lagi mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Kali ini ujian yang sama dan berulang adalah MENJADI TEMPAT CURHAT. Berulang kali saya menjadi tempat curahan hati anggota keluarga yang sedang mengalami kebuntuan komunikasi, pertengkaran dan debat yang tak ada ujung hingga salah satu pihak selalu merasa yang paling dirugikan. Emosi ketika mendengar cerita dari salah satu pihak, lebih emosi lagi ketika mendapat cerita dengan versi yang berbeda dari pihak yang lainnya. Jika dulu saya langsung memberikan label pada salah satu pihak mana yang salah dan mana yang benar, hingga mungkin tak memberikan solusi, yang ada malah memperuncing suasana. Dari sinilah saya belajar untuk banyak mendengar, menghargai setiap rasa yang ditumpahkan. Alhamdulillah kali ini jauh lebih bisa empati dan memberikan solusi. Semua pihak merasa dihargai ketika pendapat dan rasanya di dengarkan. Benarlah adanya Allah menitipkan dua telinga memang untuk lebih banyak mendengar dan mendengar, hingga nasehat ini akan terasa lembut sebagai sebuah pengingatan.

Episode tempat curhat kali ini diberikan banyak kesempatan oleh Allah untuk mengambil banyak hikmah. Belajar untuk banyak mendengar sebelum berkomentar. Belajar untuk memahami posisi orang lain dalam rangka empati. Belajar untuk berbicara dengan baik dan beradab pada orang yang lebih tua. Belajar untuk tidak mudah mengeluh dan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, karena setiap kata yang keluar dari lisan adalah bagian dari doa. Belajar lagi tentang adab bicara Jika tidak bisa berbicara dengan baik, lebih baik diam. Belajar untuk mendoakan yang baik jika kita merasa terdholimi…

Inilah bagian dari episode ujian hidup di universitas kehidupan yang saya alami berulang…
Bersiap dengan ujian yang lebih berat jika kita sudah lulus ditahap sebelumnya. Tentunya lulus dengan nilai terbaik di mata Allah.
Nah, bagaimana dengan episode ujian hidupmu? Sudah menemukan polanya? Adakah yang berulang?

Solichati, 20Juli2018