Minggu, 03 Desember 2017

Day4#Level10#Dongeng Dalam Al-Qur'an

SURAT ASY SYAM dan CUACA

Banyak hal terkadang sudah kita rencanakan dengan rapi dan baik tak berjalan sesuai rencana yang kita harapkan. Mengikhtiyarkan dengan optimal dan berserah bahwa justru rencana Allah lah yang paling tidak bisa dipungkiri. Demikian pula hari ini, ketika ananda Zaidan dalam kondisi yang lemah dan demam. Maka menemani dan memenuhi kebutuhan ananda menjadi hal yang lebih utama. Alhamdulillah Allah masih mengijinkan untuk bisa melakukan beberapa aktivitas dengan lancar. Konsep dongeng yang sudah dirancang sehari sebelumnya pun harus berubah haluan karena tidak memungkinkan untuk membuat ilustrasi yang dibutuhkan. Heee ini karena kebiasaan emaknya yang pengen menyiapkan ini itu sebelum mendongeng dan alhasil kadang tidak kesampaian karena keribetan tersendiri.

Meski dalam kondisi sakit, pagi ini ananda Zaidan tetap meminta umi dan kakak Ihan menemaninya bermain di hutan kota dekat rumah. Tak apalah piker saya untuk membuat hatinya senang, karena kondisi senang ini akan mempengaruhi imunitasnya. Sekitar 1 jam lebih bermain di hutan kota, rencana pengen memanfaatkan sebagai momentum untuk mendongeng, eh ternyata focus anak2 lebih pada bermain pasir dan mengasah motoric kasar. Heee mengalah dulu lah rencana emaknya… Diluar rencana lagi ini ceritanya. Berubah haluan lagi. Okelah semoga ada kesempatan terbaik untuk mendongeng bersama anak2 hari ini.

Setelah seharian beraktivitas, umi lebih focus menemani Zaidan yang sedang sakit. Dan kakak Ihan yang lebih banyak memanfaatkan waktu dirumah eyang dan bersepeda kesana kemari. Akhirnya Allah mengijinkan momen special mendongeng bersama anak2 setelah sholat maghrib. Nah kali ini bener2 rencana atas ijin Allah. Membuka Alqur’an tepat di surat Asy-Syams. Murojaah ayat demi ayat, tetiba muncul ide untuk membacakan cerita atau dongeng dari terjemah surat Asy-Syams. Dan anak2 pun tampak berbinar ketika umi menceritakan tentang matahari, bulan, siang dan malam cocok banget dengan kehadiran buku baru tentang cuaca. Heeee terpaksa mencocokkan meski tidak sepenuhnya cocok. Alhasil buku baru tidak jadi dibuka, tapi ceritanya langsung mengutip dari terjemah surat Asy Syams. Alhamdulillah anak2 bisa mengikuti dan Tanya jawab interaktif saat umi membacakan terjemanhnya. Sesekali imajinasi mereka liar membayangkan hal-hal yang tak terbayang bagi umi. Anak2 ini memang luar biasa ya imajinasinya. Senangnya inilah rencana terbaik Allah…

Bersama surat Asy-Syams, setidaknya kami belajar tentang Asmaul Husna Allah Maha Merajai (Al Malik) terhadap semua ciptaanNya, benda-benda langit yang mempengaruhi cuaca, manfaat Allah menciptakan siang dan malam,  kecenderungan manusia untuk memilih berbuat baik dan jelek, keberuntungan bagi orang yang berbuat baik dan kerugian bagi yang berbuat jelek, kisah Nabi Saleh dan kaum Tsamud.

Bginilah salah satu cara Allah membuat kami yakin bahwa membentuk karakter anak dengan mendongeng, tidak hanya sekedar mendongeng. Bahkan mungkin identic dengan cerita fiktif dan yang lainnya. Benarlah adanya bahwa Alqur’an adalah sebaik-baik buku cerita atau dongeng bagi manusia. Karena Allah sangat memahami bahwa manusia sangat senang dengan cerita dan dongeng, maka sebagian besar isi Alqur’an adalah cerita hikmah yang bisa diambil pelajaran dari kehidupan orang2 terdahulu. Ya Rabb jadikan kecenderungan hati2 kami untuk selalu dekat dengan Alqur’an.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan apabila mengiringinya. Demi siang apabila menampakkannya. Demi malam apabila menutupinya (gelap gulita). Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan). Demi bumi serta penghamparannya. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena melampaui batas. Ketika bangkit orang yang paling celaka diantara mereka. Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka, “(biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya. Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakanNya (dengan tanah). Dan Dia tidak takut dengan akibatnya.
(QS Asy-Syams 1-15)

Solichati, 3/12/2017

#MendongengDay4
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination


BUAH HATI PERTAMA



IKHTIYAR OPTIMAL TAWAKKAL OPTIMAL

Wanita adalah mahkluk istimewa yang diciptakan Allah dengan beragam kemuliaan yang melekat padanya. Salah satunya dan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya adalah kemampuan untuk mengandung dan menyusui. Hampir sebagian besar wanita yang telah menemukan pasangan hidupnya akan merindukan peran ini, cepat atau lambat. Inilah salah satu fitrah seksualitas yang ditakdirkan Allah melekat pada diri seorang wanita. Meskipun untuk mendapatkan amanah dan kebahagiaan ini tidak terlepas dari kuasa dan kehendak Allah tentunya. Sehingga masing-masing kita pasti memiliki pengalaman istimewa yang berbeda. Begitu pula yang saya alami selama menjalani peran pertama akan hadirnya buah hati yang pertama.

Menuangkan kisah pada tulisan ini, sesaat membawa saya mengenang kembali masa-masa suka duka saat hamil dan menyusui putra pertama sekitar 6,5 tahun silam. Kehadiran buah hati yang sudah kami nantikan cukup lama dari masa pernikahan kami, sempat membuat kami was-was dan khawatir. Meski hanya berbilang 8 bulan dari pernikahan kami, penantian itu serasa mencemaskan tatkala orang tua dari pihak kami berdua sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu ditengah-tengah keluarga kami. Berserah dan berpasrah pada Allah menjadi kunci utama kami untuk belajar menata hati dan ridho akan kehendak Allah menitipkan amanah pada kami. Hingga kabar kehamilan pertama yang sudah dinanti-nanti pun tiba. Alhamdulillah Allah menitipkan calon keturunan pada rahimku. Untuk pertama kalinya, pengalaman pertama ini membuat saya memasuki dunia baru yang belum saya bayangkan sebelumnya. Rasa senang yang menghampiri saat mengetahui kabar kehamilan akan diuji oleh Allah tentunya untuk tetap menjalaninya dengan rasa senang. Yaaa… Allah mengingatkan tentang perihal niat dalam hal ini. Menguatkan untuk menjaga niat di awal, ditengah proses dan saat akhir nanti. Perjuangan baru dimulai sejak hari itu, tepatnya 6,5 tahun silam.

Perubahan hormonal sebagai penyerta hadirnya calon buah hati tak jarang membuat banyak perubahan terutama perubahan psikologis. Mood yang sering berubah-ubah tanpa dikehendaki, dan suamilah yang siap jadi sasaran utamanya. Morning sickness yang setia menemani untuk beberapa minggu di trimester pertama. Belum lagi sakit gigi yang menjadi-jadi, hmmm kata ibu dulu ketika hamil saya sakit gigi pun dirasa hingga usia kandungan 9 bulan dan hilang ketika saya lahir. Hmmm gak kebayang deh… hanya bisa berdoa semoga ngincip sedikit saja sakit giginya. Alhamdulillah memasuki trimester selanjutnya semua aman dan terkendali. Justru kebahagiaan ketika buah hati mulai banyak bergerak menjadi hal yang kami nanti-nanti. Dan gerkaran si jabang bayi ini saya anggap sebagai kode cinta saat meminta makan dan diajak ngobrol. Masa tenang ini pun berubah menjadi kegalauan saat memasuki minggu terakhir usia kehamilan. Trimester ketiga setidaknya membuat jantung menjadi berdetak tak menentu. Menyiapkan kehadiran buah hati yang tinggal menghitung hari, mungkin seperti yang dialami bunda yang lain, dimana gelar pertama menjadi seorang ibu akan disematkan. Menyiapkan diri dan lingkungan sebaik mungkin untuk kehadirannya. Menyempurnakan pencarian ilmu untuk memantaskan diri sebagai seorang ibu untuk pertama kalinya terus dilakukan. Menyiapkan segala perlengkapan persalinan hingga memantapkan tenaga kesehatan dan tempat bersalin pun sudah dirancang dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi hari dimana calon buah hati ditunggu kelahirannya pun tak kunjung muncul gelombang cintanya. Rasa was-was pun menghampiri lagi. Second Opinion kesana kemari pun dilakukan untuk memantapkan hati, meski dalam hati selalu berusaha untuk berbaik sangka atas rencana Allah. Hingga minggu ke 42 si kecil dalam kandungan pun masih tampak bernyaman-nyaman di dalam perut uminya, dan tak kunjung memberikan kode gelombang cinta yang kuat. Akhirnya saya memutuskan untuk cek atau rekam janin atau lebih tepatnya NST. Dalam doa, saya berharap hasil NST baik dan berencana melahirkan di pelayanan kesehatan dekat rumah saja. Namun Allah berkehendak lain, NST pun hanya bisa dilakukan di Malang. Hasil NST pun menyatakan bahwa kondisi janin dalam kandungan sedang tidak baik, kontraksi yang tidak terlalu kuat untuk mendorong janin keluar dan kondisi janin yang melemah. Sehingga dokter pun menyarankan untuk rawat inap. Hasil diskusi dengan suami, kami sepakat ikhtiar optimal dalam proses persalinan ini. Sehingga Induksi menjadi pilihan yang kami. Lagi-lagi ini hanya rencana dan ikhtiyar kami…

Tak kurang dari 12 jam menikmati gelombang cinta dengan proses induksi, hingga pembukaan lengkap 10, dengan segala daya upaya mengejan janin pun tak kunjung keluar. Karena satu dan lain hal hingga mengarah ke dugaan CPD atau lebih kita kenal pinggul sempit menjadi pertimbangan yang disampaikan dokter untuk menawarkan ikhtiyar dengan operasi. Hmmmm entah apa yang saya rasa saat itu. Meski suami dan ibu yang sudah menemani selama saya menikmati proses ini tampak raut muka kecewa, terlebih ibu saya. Saya memantapkan diri untuk mengikuti kehendak Allah atas semua ini, terlebih ketika kondisi kepala janin tersangkut di jalan lahir. Setidaknya saya sedikit memahami tentang pilihan tindakan persalinan sebagai bagian dari keilmuan yang saya geluti, maka pilihan operasi insyaAllah yang terbaik diantara beberapa tindakan yang lain. Saya pun meyakinkan suami dan ibu bahwa Allah punya rencana terbaik atas semuanya. Berusaha meyakinkan diri bahwa yang dinilai Allah adalah proses bukan hasil karena hasil selalu atas campur tangan Allah. Suami dan Ibu pun mendukung keputusan saya dengan berbagai resikonya. Berselang 30 menit kemudian, saat adzan Shubuh putra pertama kami pun terlahir kedunia. Haaaahhh mendengar jeritan tangis yang keras dari jundi kecilku serasa menghilangkan rasa sesal, setelah sekian lama berjuang dengan induksi dan intervensi medis lainnya dan berakhir dengan operasi. Bahagia ketika mengetahui bayi mungil, laki-laki terlahir sempurna. Alhamdulillah syukur tiada tara…

Pasca persalinan pun menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya, selagi masih menikmati rasa sakit post operasi, gerak yang terbatas dan masih banyak lagi fase pemulihan. Lagi-lagi Allah punya scenario terindah untuk menguji keimanan kami, bayi mungil saya harus terpisah dengan saya kurang lebih 7 hari untuk menjalani fototerapi karena hiperbilirubin. Belajar bersabar lagi hingga titik kulminasi saya tak sanggup menghalau rasa cemas saat jauh dari buah hati. Akhirnya saya memutuskan untuk menerapi si kecil dirumah. Dengan keyakinan yang kuat saat diskusi dengan tenaga kesehatan, maka keputusan pun disambut dengan baik. Dan Allah menunjukkan kekuasaanNya dengan kondisi si kecil yang lebih stabil. Puji Syukur hanya untuk Allah pemegang segala keputusan terbaik.

Rasa bahagia menjadi seorang ibu pun menuntut saya terus belajar untuk memantaskan diri menjadi ibu terbaik bagi ananda. Dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit yang harus diputuskan, belum lagi pengaruh lingkungan dan keluarga yang tidak sepaham dengan prinsip dan kelimuan yang saya pahami selalu menuntut untuk yakin akan pilihan dan meyakinkan orang-orang disekitar. Perjuangan memberikan ASI, MPASI dan sederet hal yang lainnya selama membesarkan buah hati menjadi tantangan tersendiri bagi Ikhtiyar dengan kelimuan dan bertawakkal kepada Allah menjadi jalan terbaik yang harus dilalui. Meskipun saya merasa banyak sekali kekurangan saya saat membersamai tumbuh kembang jagoan pertama kami, cukuplah kami mohonkan kepada Allah atas perlindungan sempurnaNya pada putra kami. Kuatkan ikhtiyar selebihnya bertawakkal pada Allah. Setidaknya keyakinan akan pilihan dan ikhtiar optimal yang sudah kami jalani tersematkan dalam nama baik bagi putra kami. Hingga ketika nama itu selalu disebut, yang teringat adalah proses perjuangan panjang menemani kehadirannya ditengah-tengah kami. Semoga Allah mengijabah doa-doa kami selaku orang tua dalam sebuah nama yang kami sematkan pada ananda. Aamiin Ya Rabb…

Duhai jagoan pertama umi… tersemat rasa sayang tak terkira padamu Nak. Andai waktu boleh berulang ingin rasanya mengulang segala perjuangan untuk menutup segala kekurangan yang ada. Hanya saja semua takkan pernah terulang dan kita tak boleh berandai-andai. Cukupkan semua atas dua kendaraan hidup SABAR dan SYUKUR hingga semua akan terasa berjalan indah atas ijin dan kecintaan Allah pada orang-orang yang bersabar dan bersyukur. Kinipun kau sudah menjadi seorang kakak untuk adik-adikmu… Ijinkan umi menggenggam erat tanganmu untuk membersamai umi dan abi menjadi orang tua lebih baik untuk dirimu dan saudara-saudaramu kelak. Engkaulah guru pertama dan terbaik bagi kami orang tua untuk terus berbenah. Hadirmu menjadikan surga ini menjadi hal utama yang harus kita citakan bersama… Bukan begitu anakku? Sehidup Sesurga… Aamiin

Solichati, 3 Desember 2017

#CeritaKehamilan
#BahagianyaMenjadiIbu
#TerusBerbenah
#TerusMemantaskanDiri
#RumbelMenulisIIPMalangRaya



Sabtu, 02 Desember 2017

Day3#Level10#ANGGOTA TUBUHKU




ANGGOTA TUBUHKU

Diskusi dan dongenge singkat bersama ananda hari ini tentang topic ANGGOTA TUBUH. Masih berkaitan dengan topic yang kemarin tentang proses penciptaan. Diskusi kali ini adalah proses penciptaan manusia sebagai sebaik2 bentuk dan bagaimana kewajiban kita menjaganya. Pasalnya hari ini kakak Ihan sempat menangis karena gigi seri bawah mau lepas saat digunakan untuk mmainan. Sedangkan kakak Zaidan sedang sakit mata beberapa hari ini. Maka dongeng kali ini bertujuan salah satunya mengajak anak2 untuk menjaga anggota tubuhnya agar terhindar dari sakit.

Cerita tentang seorang anak yang harus mensyukuri tentang anggota tubuh yang sudah diberikan lengkap oleh Allah, sebagai suatu nikmat atas kesempurnaan penciptaan. Dan dia mengajak kita semua untuk menjaga tubuh dengan berbuat baik dan merawat tubh dengan baik.
Saat diskusi pun anak2 sangat senang menyebutkan satu persatu anggota tubuh yang dimiliki, membedakan antara laki2 dan perempuan, bahkan bentuk tubuh anak2 dan orang dewasa. Alhamdulillah anak2 yang cerdas.
Dongeng menjadi sangat menarik ketika anak2 pun menggunting bagian2 anggota tubuh menempel dan menyebutkan kegunaannya sserta bagaimana cara menjaga dan merawatnya agar tetap dalam kondisi baik. Alhamdulillah meski sangat singkat alokasi waktu mendongen hari ini tapi anak2 sangat menikmati. Bahkan menjelang tidur kakak Ihan masih meminta cerita pada umik. Dan umik menjajikan esok hari kita bercerita lagi. Semoga bermanfaat ya nak…

Solichati, 2/12/2017

#MendongengDay3
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination


Jumat, 01 Desember 2017

Day2#Level10#PENCIPTAAN DAN TUJUANNYA

ALLAH MAHA PENCIPTA (AL-Khaliq)


Kegiatan mendongeng kali ini umi sebagai fasilitator utama masih juga kebingungan bagaimana metode yang pas dengan kondisi anak2. Baru malam hari selepas maghrib umi bisa meluangkan waktu membersamai anak2 untuk menyiapkan alat peraga dan cerita yang pas untuk anak2. Untuk tema pertama kali umi ambil topic ASMAUL HUSNA Al Khaliq. Sekali lagi berusaha menyesuaikan dengan kerangka konsep yang sudah dibuat kemarin. Dalam membentuk

karakter anak melalui mendongeng sebisa mungkin umi menghindari cerita fiktif, lebih baik langsung mengkaitkan dengan kisah nyata atau kisah Nabi dan Rasul. Penekanan utama tetap pada konsep Aqidah, keimanan. Semoga dengan ini karakter anak2 terbentuk dengan baik.

Umi memulai cerita dengan menggambar aneka ciptaan Allah, menuliskan lafal Allah dan Muhammad pada selembar kertas. Umi memancing daya berpikir anak2 dengan membuat dialog pada gambar yang dibuat
“Anak2 tahukah kamu siapa Allah??
Allah adalah Dzat yang menciptakan alam semesta dan semua isinya (langit,matahari,planet,gunung2, tumbuhan dan hewan, manusia, malaikat dan Jin.
“Yahukah kamu apa tujuan Allah menciptakan semua makhluknya?
Allah menciptakan dengan tujuan untuk beribadah kpd Allah. Hannya Allah yang berhak kita sembah. (QS 51:56)

Diskusi pertama ini anak2 tampak semangat dan menikmati. Bahkan mencoba mencerna gambar yang sdh umi buat. Heee gambar jin yang umi buat kata anak2 lebih menyerupai kucing/tikus. Hahahaha memang umik ini gak ahli  banget menggambar. Tapi sisi kreatifitas ini tetap harus diasah. Tak apalah… yang penting anak2 senang.
Kemudian umi melanjutkan dengan cerita tentang bagaimana cara kita beribadah atau menyembah Allah? Kakak Ihan pun spontan menjawab dengan berbuat baik, sholat dll. Disinilah poin umi menyampaikan tentang keteladanan pada Nabi Muhammad.
Agama kita apa anak2? Islam. Ya maka kita adalah seorang muslim. Maka ibadah yang disukai Allah adalah ketika kita mencontoh apa2 yang dilakukan nabi Muhammad. Nabi Muhammad adalah teladan kita. Mencontoh bagaimana Rasulullah berbuat baik, syahadat, sholat, puasa, zakat dan Haji. Serta masih banyak lagi yang lainnya. Beribadah dan berbuat baik inilah yang nantinya akan mendapatkan surga Allah.

Seketika itupula umik menanyakan pad anak2 siapa yang ingin masuk surga??? Maka kami semua mengangkat jari tanda ingin masuk surga. Aamin semoga Allah mengabulkan doa2 kami.
Dari sekelumit cerita ini, hikmah yang bisa kami ambil adalah mengajarkan tentang bahwa Allah menciptakan kita pasti punya maksud dan tujuan, memotivasi untuk terus berbuat baik karena allah menyayangi orang2 yang berbuat baik, meneladani nabi Muhammad dalam setiap ibadah. Semoga anak2 paham dengan maksud umi bercerita malam ini. Ya Rabb saksikanlah bahwa kami senantiasa berusaha untuk terus menjadi baik… Aamiin.
 
Usai kegiatan mendongeng anak2 termotivasi untuk menggambar dan ingin membuat komik. Heeee suka meniru inilah salah satu sifat umik anak2. Semoga abi dan umi mampu mencontohkan hal2 baik untuk bisa ditiru.

Solichati, 1/12/2017

#MendongengDay2
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination





Kamis, 30 November 2017

Day1#Level10#KONSEP&MEDIA DONGENG

MEMASUKI DUNIA MENDONGENG



Deg-deg an saat memasuki tantangan level 10 mulai muncul ketika diskusi materi dan tantangan dimulai. Hmmm semangat menggebu saat awal masuk level 10 perlahan diminta bukti oleh Allah lewat kesungguhan mengerahkan tenaga, pikiran dan potensi yang dimiliki untuk menuntaskan level 10 lebih baik dari level sebelumnya. Persaan ini muncul karena tantangan yang luar biasa, keluar dari zona nyaman saat berinteraksi dengan anak2. Sebenarnya membacakan cerita dengan gaya bahasa yang disukai anak2 sudah sering umik lakukan dan keahlian ini yang tidak bias dilakukan abi. Maka bercerita, mendongeng lebih sering dilakukan umi. Bedanya tantangan kali ini tak sekedar membacakan buku cerita, tapi umi harus berkreasi membuat cerita sendiri dengan berbagai media yang ada dan belajar lebih untuk menggunakan gaya bahasa mendongeng. Hmmm jujur tidak mudah… Tapi tidak ada tantangan yang boleh disia2kan, action saja pasti nanti akan menemukan ritme dan pola yang pas saat membersamai anak2.

Hari pertama kali ini, mencoba untuk mengurai konsep yang ada di otak, mencoba membuat alur atau kerangka berpikir tentang mendongeng yang akan dilakukan pada anak2. Setidaknya  kerangka konsep ini akan membantu umi untuk menyusun rangkaian dongeng yang akan dibuat. Mencoba membuat kerangka dongeng sesuai konsep Fitrah dan tumbuh kembanga anak. Sehingga dongeng yang disampaikan nantinya tearah dan mempunyai pesan positif dalam rangka menumbuhkan fitrah dan menstimulasi tumbuh kembang ananda sesuai dengan tugas perkembngan yang harus dituntaskan sesuai usianya. Meski saya yakin ini sangat jauh dari sempurna, setidakny akan sedikit membantu untuk memunculkan ide, sehingga waktu yang ada bisa digunakan dengan optimal.

Selain membuat kerangka konsep untuk membantu menuntut ide saat mendogeng, umik pun mencoba menyiapkan berbagai media yang bisa digunakan untuk mendongeng. Mencari boneka tangan dan boneka jari yang dimiliki, mencoba mengumpulkannya lagi d antara kotak2 mainan ananda. Alhamdulillah menemukan boneka tangan Sali-saliha-mio dan beberapa boneka jari tentang profesi dan hewan. Alhamdulillah setidaknya media yang sudah ada bisa digunakan untuk mendongeng sesuai konsep fitrah dan tumbuh kembang anak. Selain itu karena umi ingin focus mengarahkan muatan dongeng pada konsep keimanan Allah dan Rasul, maka umi juga mencari beberapa gambar terkait di internet untuk dieksekusi mejadi semacam wayang kertas. Heeee sebenarnya media2 yang sudah ada dan sedang dicari dalam rangka mensiasati kelemahan umi dalam menggambar. Bener2 gak ahli deh, daripada stress harus menggambar lebih baik optimis meggunakan media gambar yang ada di internet.

Alhamdulillah… meski belum beraksi untuk mendongeng hari ini, saya lebih focus untuk prepare dulu. Semoga besok bisa mendongeng dengan optimal menggunakan media yg ada. Semoga Allah memudahkan segala urusan saat membersamai buah hati.

Solichati, 30/11/2017

#MendongengDay1
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Sabtu, 18 November 2017

Day17#Level9#BERENANG



LATIHAN RENANG


Alhamdulillah…. Segala puji hanya milik Allah yang telah menganugerahkan banyak kenikmatan. Termasuk hari Sabtu pagi ini… setelah sekian lama menjadwalkan berenang bersama baru kali ini kesampaian. Heee harap maklum kalo hari efektif anak2 pada sekolah dan siang hari sudah hujan, seringnya tiap Sabtu Ahad abinya anak2 kerja. Alhasil aktivitas berenang menjadi hal yang sangat jarang kami lakukan. Beberapa hari sebelumnya sempat diskusi dengan teman tentang mengikutkan anak les renang di Songgoriti dengan biaya tertentu sampai kompetensi gaya renang dikuasai. Setelah diskusi dengan suami dan mensiasati keterbatasan keputusan sementara adalah meluangkan waktu setidaknya seminggu sekali membersamai ananda berlatih renang dan abi sendiri yang akan melatihnya. Mengingat dulu pun abi pernah melatih berenang usia anak2. Heeee sekali lagi kreativitas di stimulus untuk mengambil keputusan yang tepat dengan banyak pertimbangan…

Maka pagi ini pun menjadi latihan serius yang pertama kalinya dilakukan, membelajri kakak Ihan yang sebelumya sangat enggan berenang menjadi lebih brani dan proaktif selama latihan  dengan abi. Salah satu yang memotivasi kakak adalah kisah para nabi dan sahabat yang mewajibkan renang sebagai olahraga yang harus dikuasai oleh muslim. Dan kakak pun sangat ingin bercita-cita menjadi tentara yang harus bisa renang. Step pertama berlatih menggerakkan kaki di air, menggerakkan kaki dengan mengelilingi kolam. Dan sesekali kakak Ihan berhasil mengelilingi kolam sendirian. Adek Zaidan masih takut dan menangis saat di ajak berenang di dalam kolam. Heeee jadi ingat ketika mas  Ihan dulu kecil, dan perilaku ini tampaknya ada pada Zaidan. Maka menjadi penting membersamai bukan memaksakan… Sabar terhadap proses. Semoga next bisa menjadwalkan rutin setidaknya sepekan sekali atau minimal sebulan sekali. Heeee….

Solichati, 17November2017

#LatePost
#Day17
#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunsayIIP
#ThinkCreative